Semalam Di Babel Kritikan Membangun Lewat Budaya
Begalor.com Jakarta. Babel semula di bawah Sumatra Selatan terbentuk menjadi Profinsi yang ke 31 berdiri tahun 2000, Maka sejak itu Babel berbenah diri untuk melakukan percepatan pembangunan disegala bidang termasuk ke Parawisataan yang akan menjadikan Profinsi ini sejajar dengah Profinsi Bali, Lombok ataupun Raja Empat yang sudah terkenal di Mancanegara. Visit Babel 2010 adalah tonggak awal untuk menyatukan visi kebersamaan antara Masyarakat dan Pemerintah Daerah bekerjasama menunjang kegiatan ini.
Sebuah konser dengan bertajuk semalam di Babel Rabu 22 –Des- 2009 lalu diadakan di Fairly Hall Jakarta Convention Center merupakan pegelaran pertama kali yang dilakukan Profinsi ini untuk menarik minat Masyarakat luar melihat Profinsi ini melalui Budaya. Pegelaran yang terdiri dari Musikalisasi Drama diiringi Orkestra ini sarat dengan nuansa kritikan terhadap perkembangan pembangunan dan pelestarian Budaya di Babel.
Percepatan pembangunan di profinsi Babel tanpa sadar memberengus akar Budaya Profinsi ini mengabaikan nilai-nilai kerarifan lokal, Keseimbangan alam yang tidak terjaga demikian juga masyarakatnya yang mulai perlahan-lahan meninggalkan tradisi lama hingga tanpa sadar Masyarakat kehilangan Indentitas sebuah Negeri yang seharusnya terpelihara sedangkan Budaya luar lambat laun melunturkan nilai-nilai luhur dari Budaya Lokal.
Negeri Serumpun Sebalai yang diceritakan dalam Drama Musikalisasi ini mengisaratkan agar Masyarakat Babel menjaga akar Taradisi lama di Negeri ini. Budaya di Negeri Serumpun Sebalai harus segera ditumbuh kembangkan di Masyarakat Babel untuk menanamkan nilai-nilai Kearifan Lokal.
Konser ini tidak hanya memberikan pesan terhadap Masyarakat Babel untuk cinta pada Kampung Halamanya saja namum juga pesan terhadap Dunia bahwa Babel sangat kaya akan akar Budaya Tradisinya.
Bangka ketika dibawah kesultanan Palembang dimana pegaruh Melayu sangat kental, Demikian juga Pulau Belitung sejak berabad-abad lampau di Negeri Balok atau kerajaan Balok dengan pengaruh Jawa Mataram menjadikan kedua Pulau ini sangat unik dan kaya dalam hal Sejarah dan Budayanya.
Visit Babel 2010 mencanangkan Babel menjadi kunjungan Wisata bagian Barat. Ini bukan tanpa alasan sebab panorama Pantai di kawasan Bangka Belitung merupakan salah satu yang terindah di jajaran kepulauan Nusantara dan ini modal untuk wisata Babel, Namum benturan-benturan dengan Eksploitasi Alam menjadi hal yang tidak bisa di abaikan di Bangka Belitung.
Selain itu penataan-penataan Inprastruktur harus segera diupayakan seperti kawasan Wisata Pantai Tanjong Tinggi dimana pantai ini salah satu pantai yang terindah di Babel namum Inprastruktur untuk memanjakan para wisatawan harus segera di bangun. Agar ini bisa memicu pertumbuhan ekonomi masyarakat di kawasan tersebut.
Pengembangan dan pembinaan terhadap sentra kerajinan lokal harus dilakukan terutama kantong-kantong Daerah yang memjadi industri kerajian tersebut. Sentra Budaya dan pembinaan kesenian lokal menjadi wajib demikian juga dengan perlindungan terhadap cagar budaya, sebab ini merupakan pernak-pernik wisata.
Konser Babel ini sangat kreatif para seniman Babel ini mengolah karyanya dari Tarian, Nyanyian, Musik Drama, Pantomin diramu dalam satu kesatuan yang memikat di iringi orkestra dari Tengku Ryo Rezqan, namum sebagian penonton terlihat terasa bosan lantaran durasi pertunjukan yang panjang yang di awalin dengan Pidato yang banyak menyita waktu sehingga konser belum selesai penonton sudah banyak keluar Gedung.
Menurut salah satu pengunjung Tapif, Laki-laki yang berasal dari Babel yang bekerja di Jakarta “ Semula Saya ingin melihat pertunjukan kesenian Tradisional di dalam konser ini dimana seluruh kesenian Babel di Gelar namun Saya hanya sedikit menemukan itu, Tapi secara keseluruhan acara ini sangat luar biasa kritikan Sosial terhadap Pembangunan di Babel lewat Budaya menjadi hal yang menarik” Begitu ulas Tapif ( Ki Agus Wahyudi )
Filed Under: Seni dan Budaya





Komentar