Nasibmu Suku Sawang , Nasibmu Nelayan Pesisir Belitong

Begalor.com Belitung Perhelatan tiap tahun yang selalu dilakukan Suku Laut atau yang lebih dikenal Suku Sawang adalah Buang Jong, dimana ritual ini merupakan selamatan atau Syukur atas karunia laut yang di berikan sang pencipta kepada Suku Sawang dan Masyarakat Nelayan  Belitong.

Buang Jong menjadi daya pikat tersendiri bagi Wisatawan yang mengunjungi Belitung sebab aktraksi buang Jong merupakan Ritual yang sarat dengan mistis. Salah satu bagian dari Ritual ini adalah Tarian Ancak, Tarian yang memukau ini terkadang menjadi  simbol kesenian Belitung di mana sering di pegelarkan di berbagai event baik Nasional maupun yang bersekala Internasional.

Suku Sawang semula mendiami pesisir pantai Pulau Belitung  dikenal sebagai Orang Perahu lantaran mereka hidupnya nomaden dan tempat tinggal mereka adalah Perahu. Laut menjadi tumpuhan hidup mereka. Hingga Pemerintah Daerah merelokasi mereka ke tempat-tempat penampungan hingga lambat laut mereka betah didaratan, Namum walau sudah mendiami daratan laut tetap sebagai mata pencarian mereka. Mereka terkenal dengan kemahiran menyelam untuk mendapatkan tripang  sedangkan untuk menangkap ikan biasanya suku ini. menggunakan peralatan tradisional berupa pancing dan tombak, Suku Sawang adalah Nelayan pesisir.

Namum keberadaan baik tradisi maupun penghidupan dengan laut perlahan-lahan memudar. Perlindungan baik secara budaya maupun tradisi terhadap suku ini tidak optimal. Sehingga lambat laun mereka meninggalkan tradisinya.

Demikian juga laut yang menjadi tumpuhan kehidupan mereka lambat laun bukan lagi ladang yang menggiurkan, ancaman bom ikan yang akan menghacurkan biota karang laut demikian juga eksplorasi tambang laut akan memberegus penghancurkan ekonomi mereka secara perlahan-lahan  Sebagai nelayan pesisir.

Buang Jong yang merupakan acara tradisi Suku Sawang yang di gelar tiap tahun lambat laun tidak akan punya makna apa-apa. Tradisi  budaya yang seharusnya tepelihara dimana bisa menimbulkan nilai-nilai luhur  menanamkan kearifan lokal antara Manusia dan Alam, seimbang guna memenuhi ruang penghidupan ini akan tergerus. Percepatan ekonomi tanpa melihat faktor-faktor keuntungan lansung yang didapatkan dari masyarakat kecil dari alam tentu saja akan membuat jomplang untuk generasi hari ini maupun masa depan. Apalagi semakin menyusutnya nilai-nilai kepercayaan masyarakat kepada pengambil kebijakan yang mengelolah APBD untuk kesejatraan masyarakat kecil, Ekplorasi terhadap pesisir pantai dan laut yang punya nilai jual berupa alam untuk wisata maupun penghidupan langsung terhadap Nelayan pesisir haruslah segera dipertimbangkan kembali.   ( Ki Agus Wahyudi )

Filed Under: Galoran Kite



Komentar