ORANG BELITONG IKUT PERANG PASIFIK
Begalor.com Belitung. Perantau Indonesia kelahiran Belitong A.B SHAMSUDIN, meninggalkan tanah air Indonesia 1928. Bekerja di sebuah maskapai pelayaran minyak, telah singgah di banyak negara. Menjadi warga negara Inggris dan menetap di SOUTH-SIELDS,TYNE&WEAR, NE,33 ISD. ENGLAND. UK. Menikah dengan Emmy, memiliki tiga anak kandung; Dani Yusuf, Norma, dan Essa.
Pada masa perang Dunia II, Inggris yang menjadi sekutu Amerika, maka beliau sebagai warga negara inggris mesti ikut bela negara dalam perang diantaranya perang laut pasifik. Tentu saja karena latar beliau adalah pekerja kapal maka beliau menjadi marinir yang terlatih memegang meriam (Gunner) anti pesawat udara. Alhamdulillah usai perang Asia Timur raya beliau selamat hingga meninggal dunia tahun 1994 dan kini makamnya di tanah Inggris….Istri beliu telah lebih dulu berpulang, 26 Mei 1980. Seusai perang dunia II, beliau kembali bekerja sebagai pelaut.
Pemerintah Inggris memberikan penghargaan atas dedikasinya selama perang yang berlangsung 1939-1945 dengan 6 (enam) medali bintang jasa, diantaranya; Bintang Pasific, Bintang pengabdian 1939 To 1945, Bintang Atlantic, Bintang King George V, Bintang Italian, dan Bintang Berma.
Semasa hidup, silaturahmi beliau lewat surat tidaklah terputus dengan saudara – saudaranya di Belitong, Lelaki perkasa yang berasal dan lahir di kampung Petaling Pulau Mendanau Belitong ini, selalu mengisahkan perjalanan hidup beliau.
Di bawah ini, salah satu kisah beliau melalui surat Paparan surat beliau ini, telah ditulis dengan ringkas agar mudah dipahami karena beliau menulis cukup panjang, di tulis secara berangsur dari tanggal 4 sampai 10 Agustus 1986. Surat tersebut ditujukan kepada seorang cucunya di Pangkalpinang BangkaBelitung Ian Sancin yang juga seorang penulis buku novel.
Ringkas ceritanya…. Kapal yang bernama Skeldergate kami tumpangi bertolak dari Madras India, Jumat petang, 31 Oktober 1950. Dua hari dihantam angin ribut terus-menerus dalam hujan yang mebadai, siang bagai malam, apalagi malam menjadi gulita tanpa bintang. Badai itu membuat kapal kehilangan arah karena lockline kapal terputus, kapal kehilangan arah. Pada Sabtu, 1 Desember 1950, pukul 1 dini hari, ketika baru merebahkan tubuh, saya yang sekamar dengan seorang Islam dari Afrika, Ali bin Tando. Kami merasakan, tiba-tiba kapal sekonyong miring.
Lewat pengeras suara yang terdapat di semua kabin dan ruang lainnya, terdengar suara kapten kapal, memerintahkan segera berkumpul di bawah Bridge. Kami segera keluar kabin, rupanya kapal telah menghantam beting pasir. Dalam hujan lebat dan angin kencang, kesiagaan terhadap keselamatan segera ditindaklanjuti. Kapal tak berdaya dihantam badai yang kandas di beting pasir. Ini berjarak lebih kurang 100 km dari Calcutta.
Tiga jam kemudian begitu laut surut haluan kapal terangkat tinggi tapi terus dipukul ombak samudera hingga putus menjadi dua. Kami menjadi agak panik karena posisi kapal terus miring. Beruntung angin sedikit reda hingga kami bisa menurunkan sekoci, meskipun dalam keadaan susah payah karena kapal miring. Satu jam berikutnya sekoci utama sudah dapat diturunkan dan cukup memuat 60 hingga 70 orang. Sekoci pun segera bertolak mencari daratan.
Setelah kami menurunkan semua awak ke sekoci utama maka giliran kami; saya beserta Captain, Chief officer, dan yang lainnya ikut dalam sekoci yang lebih kecil dan hanya digerakkan dengan empat dayung. Dalam keremangan kabut hujan, daratan yang terlihat menjadi samar-samar dibantu hembusan angin ribut hingga bisa ditempuh lebih kurang setengah jam mencapai daratan yang saya tidak tahu namanya. Dua jam kemudian hujan berhenti kami membuat api untuk berdiam semua pada basah. Jika hujan tak berhenti mungkin saya telah mati kedinginan.
Sebuah kapal Amerika yang hendak ke Calcutta menolong kami. Di kapal itu ada 3 orang Melayu seorang diantaranya bernama Ali Ibrahim, dan ternyata ia adalah teman saya, di tahun 1934, pernah tinggal serumah di Dunlup Street, No.10, Singapore. Secuplik kisah Ali Ibrahim; sewaktu masih di Singapore, ketika saya sedang pergi ke Geylang Seray, bersama Abubakar bin Haji Sulaiman, begitu pulang ke rumah; satu stel pakaian saya telah digadaikan oleh Ali Ibrahim…. kemudian ia menghilang tak tahu rimbanya.
Begitulah… di tahun 1950 ini, di kapal Amerika ini, Ali Ibrahim muncul lagi bertemu saya, ia menangis tersedu, betapa lama tak berjumpa setelah saya menetap di England. Tuhan punya kuasa mempertemukan kami, ia memang kehilangan saya selama ini hanya guna hendak membayar kembali satu stel pakaian yang pernah digadaikannya… Ketika saat itu, kami para pelaut jika tak berlayar takkan mungkin mendapat uang untuk makan. Kini, di musibah kapal yang saya tumpangi, ia muncul sebagai sahabat penolong saya.
Kami mendarat di Calcutta dan begitu menginjak pelabuhan segera di potret oleh pewarta sebuah harian setempat (kliping gambar di surat kabar saya sertakan). Selanjutnya kami diinapkan di Sailors Room, wisma pelaut sedunia. Sewaktu hendak berpisah dengan Ali Ibrahim, ia memberi uang buat saya lima puluh pound dan baju dua stel, seraya berkata “ Ini pengganti bajumu yang saya gadaikan tempo dulu…” saya terharu dalam pelukannya yang begitu erat. Seminggu di Calcutta Ali Ibrahim mentraktir saya hingga jelang keberangkatan kapalnya menuju New York.
Tanggal 12 Desember 1950, pukul 2.45 malam berarti sudah tanggal 13 Desember 1950, kami meninggalkan Calcutta memakai pesawat terbang milik pemerintah India bernama Bharad Air line. Pukul 7 pagi mendarat di Karachi Pakistan. Jam 7 malam berangkat lagi menuju Bahrain, sampai di sana pukul 1 dini hari tanggal 14 Desember 1950, kami langsung menginap di hotel B.O.AC. Dan pukul 10 malam itu juga kami menuju Cairo Mesir sampai pukul 1 dini hari istirahat makan satu jam. Jam 2 dini hari berangkat menuju Marshell Perancis. Saya masih harus menunggu keberangkatan lagi; penerbangan ditunda 2 hari karena cuaca buruk antara Perancis dan Inggris. Sebuah pesawat telah jatuh jatuh dan tak seorang pun yang selamat.
Hari Minggu, 17 Desember 1950. Saya meninggalkan Marshell pukul 10 pagi dan mendarat di London pukul 11.30. Dari Hearthrow Airport, saya naik taxi menuju stasiun kereta api Kings Crose yang akan menuju stasiun New Castle on Tyne, turun di sana naik lagi kereta api kedua menuju South-Shields. Dan sampai di rumah pukul 10 malam, dan makanan sudah siap di meja, tapi tangisan semua anggota keluarga belum juga berhenti. (Ian Sancin Penulis Novel Yin Galema)
Filed Under: Profil





Komentar