SEKILAS SUKU LAUT BANGKA BELITUNG

Begalor.com Penyebaran suku laut yang di wilayah Bangka Belitung dan sekitarnya sudah mengakar sejak lama; mereka disebut dengan berbagai nama diantaranya Suku Sawang, Suku Sekak, Suku Lanun. Pada umumnya mereka digolongkan sebagai kelompok atau komunitas yang unik karena mendiami pesisir pantai yang ada seputar Bangka Belitung dan sekitarnya termasuk kepulauan Riau dan sisi barat Kalimantan.

Kedatangan suku laut ini bermula dari masuknya Spanyol dan Portugis ke wilayah Pulau Mindanao Pilipina Selatan pada tahun 1521. Spanyol menyebut orang Mindanao ini seperti orang Islam Moroko yang ada di Spanyol, hingga kini orang Pilipina Selatan ini disebut dengan Orang Moro. Perlawanan dan perpindahan penduduk kepulauan  Pilipina Selatan ini pada abad itu terus mengalir. Ke bagian Kepulauan Riau temasuk Lingga dan Bangka Belitung. Identipikasi mereka pun dikenal dengan dengan sebutan separti Suku Sekak yang dari Suku Sakai Pilipina, Lanun dari Suku atau orang yang menempati Teluk Lanoa Pilipina. Kemudian pada masa itu, suku tersebut mendiami Pulau Moro di Kepulauan Riau hingga ia disebut Pulau Moro, juga Pulau Mendanao di sisi barat Pulau Belitung.
 
Pada masa itu sebagian besar urang laut ini menjadi Bajak Laut laut yang terkenal dengan sebutan “Lanun” mereka hidup berkelompok dan terpisah-pisah serta mengabdi pada raja dari pulau yang mereka singgahi. Mereka tak memiliki kekuatan politis, dan secara ekonomi tergantung pada laut. Hidup dan ruang gerak mereka menjadi terbatas. Apalagi sejak Pemerintahan Belanda di Batavia mengadakan pembasmian perompak laut secara besar-besaran pada tahun 1838, di Perairan Belitung dipimpin oleh J.J Roy, maka peran Lanun yang disegani menjadi meredup. Suku-suku laut itu semakin terpisah menjadi kelompok kecil. Selanjutnya ada yang bisa beradaptasi dengan orang darat dan pada masa berdirinya perusahaan pertambangan timah mereka ada yang menjadi pekerja atau buruh kasar pertambangan timah terutama di Belitung.

Secara Tradisional dan ritual mereka adalah kelompok suku yang bertahan dengan pola hidup yang sebetulnya tak banyak memiliki perubahan. Usaha Pemerintah yang merelokasi mereka dari pesisir laut hingga ke bagian darat. Tak banyak membawa perubahan yang berarti. Ketergantungan pada laut yang sudah menjadi kebiasaan mereka tak begitu mudah untuk ditinggalkan. Hanya generasi terakhir yang sudah beradaptasi dengan orang daratan terlihat telah mengalami perubahan pola hidup; sosial ekonomi dan pendidikan. Namun relokasi ini tak sepenuhnya berhasil karena mereka sesungguhnya masih tetap tergantung pada keserasian atau kondisi awalnya sebagai suku yang harus hidup bertahan di laut.

Cara yang paling tepat adalah membuat kearifan hidup mereka secara layak harus pula sesuai dengan naluriah hidup mereka. Bukankah setiap suku atau puak berhak atas eksistensi kehidupan mendasar yang sesuai dengan pola hidup mereka?

Ian Sancin. Pengamat Masalah Sosial Budaya Bangka Belitung.

Filed Under: Info Wisata



  1. Riza Moekti

    Asalamualaikum.. Ian, mace tulisan mikak , aku jadi ingat waktu kecik kalok kite berebut rebusan menggale ramai-ramai dan rio campo, urang tue kite ngingatkan kite ” Usah ingar mikak ne.. macam sekak karam aja ! ”
    Aku rase foklor semacam itu agik banyak dan tetap hidup sampai sekarang di kampong kite Belitong.
    Aku sependapat dengan mikak mengenai hak setiap suku atas Eksistensi dasar yang sesuai dengan pola hidup mereka.
    Namun disis lain timbul juak tande tanyak mengenai eksistensi suku sekak ini ngape susah untuk terjadi perkawinan budaye dengan penduduk asli nok didaratan padahal mereka la ratusan tahun dibelitung..
    Apakah secara psikologis urang darat dari dulu memang tidak nyaman dengan ke ekslusifisme suku - suku tsb sehingga membuat semacam benteng resistensi yang diceritekan turun - temurun mengenai perilaku yang kurang adaptif dari suku2 tsb dan ahirnya menjadi perilaku Arkhetip (ketidaksadaran kolektif )bagi kite semue sehingga tidak pernah benar-benar menjadikan kite berpikir inklusif untuk menerima mereka menjadi diri mereka apalagi menjadi bagian dari budaya kite nok disebut adiluhung beradab..kipe menurut mikak Ian…

    Wassalam

    Riza Moekti

    Jawab
    Admin coba menjawab tentang pertanyaan ini.
    Jika dilihat dari karakter budaya ada beberapa perbedaan terutama dari sisi Agama, masuknya islam di pulau Belitung menjadikan masarakat daratan mempunyai aturan-aturan secara islam, sedangkan Suku laut adalah Nomaden berpindah-pindah kepercayaan yang dianut adalah animisme ini bisa dilihat sampai saat ini dari sisa-sisa peninggalan budaye suku ini melalui kesenian berupa tarian ritual yang masih banyak menggunakan mistis, belum lagi Faktor dari Bahasa dan tradisi yang sangat berbeda dengan urang Darat.

    Salam hangat
    Ki Agus Wahyudi

Komentar

Viagra | Adderall | Viagra Online | Levitra | Free Viagra | Cheap Viagra