Kearifan lokal Belitung
Begalor.com . Kearifan lokal seharusnya ada dilingkungan masing-masing dari generasi ke generasi dipertahankan dan dikembangkan sebab kearifan lokal bukan didasari oleh teknologi namun pembelajaran kebaikan yang secara tidak langsung kepada manusia dan tidak ada pendidikan formal dan pelatihan untuk meneruskan kearifan lokal, Manusia menciptakan budaya dan lingkungan sosial lalu beradaptasi terhadap lingkungan fisik dan biologisnya. Kebiasaan tradisi diwariskan dari generasi ke generasi dan terkadang tidak menyadari dari mana asal warisan tersebut. Sebut saja warisan leluhur di Pulau Belitung dimana masih memegang tradisi selamatan kampung, maras tahun tradisi ini merupakan nilai luhur kepada masarakat atas rasa terimakasih kepada sangpencipta dari rizki yang diterimanya serta menjauhkan malapetaka yang akan menimpa masarakat pulau Belitung
Pada abad 16 masa pemerintahan Cakraninggrat I Tahun 1618 – 1661 Ki Gegedeh Yakob membangun rumah adat yang di sebut dengan Ruma Gede, beliau sudah bersikap egiliterian dan memfungsikan rumah adat sebagai tempat bermusyawarah dengan tokoh-tokoh masyarakatnya. Ini penting bagi beliau karena sesungguhnya beliau adalah keluarga Kerajaan Mataram (bukan warga asli), sedangkan masyarakat Belitung sendiri dari berbagai suku atau etnik, di antaranya suku asli yang disebut urang kampong atau urang darat, Suku Sekak atau Sawang, Suku Juru, Suku lingga, dan Suku lainnya
Jika dilihat tulisan di atas Demokrasi sudah berlaku di Pulau Belitung sejak berabad-abat lampau dimana para pemimpinya duduk bersama membahas permasalahan kemasarakatan di Pulau Belitung secara bersama-sama, Ruma Gede yang di bangun di pulau Belitung saat ini ( Rumah Adat ) merupakan warisan kearifan lokal dimana seharusnya Rumah ini merupakan symbol dan pendidikan non formal bagi masarakat menimbulkan rasa kecintaan yang semakin tinggi terhadap pulau ini, para Pemimpin dan masarakat masih bisa duduk bersama Begalor dan berehun membahas langkah-langkah untuk membangun pulau ini secara bersama-sama.
Tahun 1668, kedatangan kapal Belanda “De Zandloper”, dipimpin oleh Jan de Harde, dalam risetnya ia menggambarkan tentang situasi dan kondisi kerajaan Balok termasuk adanya rumah balai atau Ruma Gede. Pada saat itu pemerintahan Depati Cakraninggrat II KA Mending Beliau seorang pertapa, menganut mistis terkenal dengan julukan raja dukun yang memberikan wewenang kepada para dukun di tiap-tiap kampung atau kubok. Jadi penduduk tidak lagi perlu meminta izin raja jika mau menguasai tanah ladang tapi cukup ke dukun. Beliau mencanangkan Tanah Pusake yang tak boleh diganggu antara lain Tanjung Kelumpang, Hulu Sungai Lenggang, Hulu sungai Kembiri.
Jika dilihat dari pencanangan tanah pusake ini sangat jelas para pemerintahan di Pulau Belitung pada saat itu tidak hanya berdemokrasi dengan sesame manusia saja namum kepada alampun berdemokrasi, tanah pusake berupa hutan yang dicanangkan KA Mending ketika itu adalah resapan air untuk kelangsungan hidup masarakat Belitung sendiri, lalu Dukun berperan untuk mengatur hubungan antara manusia dan alam dimana hutan dan tanah adalah untuk mereka mencari nafkah harus dijaga kelangsunganya, kearifan lokal yang menjadi dasar merupakan nilai-nilai luhur untuk kebijaksanaan antara manusia dan alam.
Ketika masarakat memahami makna akan sejarah lokal terutama para pengambil kebijakan didaerah Belitung, Nilai-nilai luhur kearifan lokal terhadap pulau ini akan terus terjaga, menggeser sifat-sifat serakah pengusaan lahan atau mengeruk alam secara membabi buta untuk keuntungan pribadi.
Pemilu 2009 adalah pesta demokrasi dimana para caleg berlombah-lomba untuk menjadi Anggota Dewan Perwakilan Rakyat di pulau Belitung mewakili berbagai macam partai. Tapi sudahkah mereka membumi dengan Pulau Belitong ini memahami karakter masarakat dan alamnya terutama rasa cinta dari nilai-nilai luhur Pulau ini..?
Diharapkan ketika duduk di kursi DPRD Belitung setatus mewakili partainya berganti mewakili masarakat membangun pulau Belitung dengan Cinta. ( Sumber Ian sancin penulis Ki Agus Wahyudi )
Filed Under: Berita Kita





Komentar