Kafe Semak dan Pekerja Wanita
Begalor.com. Era reformasi telah membawa angin segar di Pulau Belitung pasir timah telah menjadi anugrah yang berlimpah, para pengusaha baik di Pulau Belitung sendiri maupun diluar Pulau Belitung menjadikan tanah dipulau Belitung adalah ladang emas hitam. Perekonomian di pulau Belitung mengalami puncak yang sangat luar biasa dengan mengorbankan sisa-sisa dari kearifan lokal dari kawasan alam yang terpelihara.
Di tahun 2004 Seiring mudanya Masarakat mendapatkan uang maka bermunculah Kafe-kafe di Pulau Belitung dari tahun ketahun hingga sampai saat ini terus bertambah, kafe-kafe ini tidak selayaknya di bilang kafe sebab banyak berada di hutan-hutan yang jauh dari pemukiman penduduk.
Team begalor.com menyelusuri kafe-kafe di Pulau Belitung ( Kafe Semak ) beserta keberadaanya, papan petunjuk kafe sangat jelas terlihat diantara tumbuhan liar semak belukar. Kami menemukan kafe yang dihuni oleh enam orang wanita lima orang wanita masih muda berusia sekitar 14 sampai 20 sedangkan satu orang wanita lagi setengabaya mereka berasal dari Jawa Barat dengan kondisi yang sangat tidak layak untuk dipekerjakan di tempat seperti ini.
Kafe ini berupa bangunan semi permanen dengan dinding papan serta sebuah kamar dengan alas kasur yang tipis tempat mereka beristirahat menunggu hari demi hari berlalu, tak ada pasilitas yang layak hanya sebuah TV yang juga dipungsikan sebagai karoke untuk menghibur para tamu. Sedangkan untuk mandi dan buang hajat mereka harus menumpang kafe sebelah yang pasilitasnya sedikit lebih manusiawi, terkadang juga mereka mandi di kolong yaitu danau bekas galian timah.
Kafe yang kami temui ini terdiri dari beberapa saung alakadarnya dengan dinding-dinding pelastik biasanya digunakan untuk para tamu bercekrama dengan penghuni kafe sambil bersantai, Jam tujuh malam Kafe ini baru memulai menjual minuman, para tamu yang datang ke kafe ini untuk meminum minuman keras dan juga wanita penghibur ( PSK )
Bincang-bincang ringan dengan penghuni kafe seorang wanita setengabaya yang menyatakan berasal dari kota kembang Bandung telah tujuh tahun berada di Pulau Belitung, Wanita ini cukup hati-hati ketika bicara dengan kami tak banyak keterangan yang didapat dari wanita ini, kemudian wanita ini dijemput oleh seseorang laki-laki dengan sepeda motor meninggalkan kami, akhirnya kemipun ngobrol dengan wanita-wanita muda lainnya yang baru mengghuni kafe ini sekitar 1 bulan sampai 3 bulan lalu.
Tak lama kemudian tukang obat keliling datang menawarkan produk obat-obatan, dilihat dari merek obat-obatan ini tak ada yang dikenal, selintas terlihat kebanyakan Jamu, Salah seorang penghuni kafe sambil membawa boneka mainan memperhatikan obat dan jamu ini tertarik dengan jamu pencuci darah, jamu itu katanya untuk menetralkan darah dari minuman yang beralkohol.
Sungguh miris jika melihat kondisi wanita-wanita muda yang diperkerjakan ini, untuk itulah kamipun menemui Dinas Pengawas ketenagakerjaan Tanjungpandan Belitung Bapak Manimbul Sitohang Senin 16 Febuari 2009 yang memberikan keterangan bahwa sampai saat ini belum mendata akan keberadaan wanita pekerja ini termasuk pekerja di bawa umur.
“Tapi sudah kewajiban kita memperhatikan para pekerja Wanita ini termasuk jam-jam kerja mereka beserta pasilitas kesehatan serta lain-lain yang menjadi haknya mereka. Dinas pengawas ketenagakerjaan sendiri menyadari Kafe dan pekerja wanita ini sendiri semakin banyak di pulau Belitung, Untuk itu ditahun 2009 ini baru direncanakan program untuk mendata para pekerja serta izin-izin dari kafe-kafe ini, Selama ini Dinas Pengawas Pekerjaan sendiri baru hanya menyentuh sektor-sektor formal saja sedangkan non formal seperti kafe ini belum pernah sama sekali”.
Ditanya tindakan apa nanti yang akan dilakukan setelah pendataan cukup termasuk ditemukan perizinan yang tidak mengikuti aturan, “Semua laporan itu nanti akan diserakan kepada Bupati selaku pejabat tertinggi Daerah dan apabila melanggar peraturan undang-undang tentu saja akan di tindak.” Di tambahkan juga oleh ibu Dian Kepala Dinas “Untuk melakukan program ini juga nanti akan mengandeng pihak-pikak terkait.” ditanya kapan tepatnya program ini di Jalankan Ibu Dian belum bisa memberikan kepastian
Kafe-kafe di Pulau Belitung jika tidak diawasi dengan baik tentu akan jadi permasalahan Sosial dikemudian hari, kasus demi kasus akan terus meningkat, Perdagangan Wanita, Miras, Narkoba, Asusila mewarnai Pulau Belitung. Sudah selayaknyalah Masarakat dan aparatur-aparatur terkait bergandengan tangan dan melakukan tugasnya dengan baik, jangan sampai dikemudian hari buta hati, hilang nurani hanya dengan segepok rupiah sogokan (Team Begalor.com )
Filed Under: Berita Kita





April 19th, 2009 on 12:15
Waah tuh ibu ngaku-ngaku dari bandung ya…Apa di bandung udah benar2 gk ada stock kerjaan? Biasalah asal dari jawa barat kalau sudah di kampung orang lain pasti bilang dari bandung.Lagi pula jauh amat buuuu mau kerja gitu harus ke belitung.