Propinsi Bangka Belitung ( Babel ) Ketergantungan Beras dan Gula dari Jawa
BEGALOR.COM Sudah sejak lama kepulauan Babel hidup masyarakatnya ketergantung kepada pemasukan beras dan gula dari pulau Jawa yang diatur oleh Bolug, padahal kedua pulau ini mempunyai potensi yang cukup besar untuk bisa mencetak areal persawahan sendiri melalui sistem pengairan terpadu karena Babel mempunyai lahan-lahan tertentu yang cukup subur didukung pula oleh adanya sungai-sungai besar yang mengalir sepanjang tahun tanpa terhenti dan terbuang sia-sia kelaut, masyarakat setempat ada yang memanfatkan lahan subur tersebut secara sporadis bertanam padi (padi nunggal) dengan sistem tadah hujan dan hasilnya cukup baik, potensi ini rupanya tidak dilirik oleh Pemda setempat untuk difasilitasi dan dikembangkan karena kecilnya Pendapatan Asli Daerah (PAD) sehingga anggaran yang ada hanya habis untuk mendanai hal-hal yang sifatnya rutinitas yang pada akhirnya dua kepulauan ini sulit untuk berkembang secara mandiri (swasembada pangan), kepulauan Babel dikatakan sebagai propinsi baru yang penghasilan PAD nya tergolong kecil, salah satu faktor penyebabnya adalah mungkin disebabkan oleh kurang terarahnya prioritas pembangunan yang dilaksanakan untuk mempercepat peningkatan PAD tersebut.
Hal tersebut diperparah lagi dengan jatuhnya harga timah beberapa puluh tahun yang lalu (tepatnya tanggal 29 April 1991) sehingga PT Timah harus ditutup yang kemudian dioperasikan kembali setelah diciutkan dan para karyawannya dirasionalisasi (lebih kurang 7500 kepala keluarga ter PHK), beruntung masih ada hasil alam lainya seperti pasir kuarsa, pasir beton, tanah liat dan kaolin, pasir besi, tanaman hasil lada putih oleh rakyat setempat yang mampu menghasilkan lebih dari 2500 ton/tahun, kemiri dan kelapa serta hasil hutan dan hasil laut yang sangat besar potensinya termasuk potensi pariwisata yang kemudian dikembangkan pula sekarang dengan tanaman kelapa sawit yang telah ditanami lebih dari 125.000 hektar yang bisa menghasilkan lebih dari 600.000 ton minyak sawit mentah (CPO)/tahun sebagai pengalihan mata pencarian masyarakat setempat, Pemerintah khususnya Departemen Pertanian sedang berusaha untuk memaksimalkan lahan tidur padang ilalang untuk dijadikan tanaman padi sistim tadah hujan untuk ketahanan pangan nasional, pemikiran pemerintah semacam ini mestinya diprioritaskan kepada propinsi dan kabupaten yang daerahnya mempunyai sungai-sungai besar dan subur sehingga anggaran APBN maupun APBD yang disediakan tepat sasaran dengan tingkat resiko kegagalan yang kecil, apalagi kalau melihat hasil panen yang dihasilkan jauh lebih kecil apabila dilakukan dengan konvensional sistem tadah hujan dan masa panen yang lebih lama (dengan sistem irigasi persawahan hasil padi 7 ton/ha dengan masa tanam 3 bulan kalau sistem tadah hujan hanya 4,5 ton/ha dengan masa tanam/panen 6 bulan), kenyataan itu merupakan kerugian besar bagi petani dan juga bagi pemerintah.
Pro aktifnya Pemda setempat terhadap rencana pemerintah tersebut mestinya cepat diantisipasi dengan membuat kajian dan proposal awal yang nantinya bisa dikembangkan oleh konsultan yang ditunjuk oleh baik oleh Departemen Pertanian maupun oleh Departemen Pekerjaan Umum. Propinsi Babel jelas mempunyai kepentingan sangat besar terutama untuk swasembada beras dan juga gula dengan lahan yang siap ditanami begitu luas, DPRD dan masyarakat setempat sudah barang tentu akan menyambut gembira karena nilai tambahnya akan sangat besar, pengangguran akan banyak tertampung disini, kegiatan ekonomi dan daya beli masyarakat akan meningkat, kerusakn lingkungan akan lebih terjamin dibandingkan kalau masyarakat menggali dan membuka lahan penambangan timah secara liar dan tidak terkendali secara individu.
Ditinjau dari segi penghasilan lainnya, Babel mempunyai potensi pula untuk bisa menghasilkan air minum mineral dari air gunung yang melimpah, hasil laut berupa rupa-rupa ikan, sotong dan cumi-cumi, ubur-ubur, kima, ikan fillet dan kepiting kupas/isi, haisom dan lain-lain termasuk rumput laut serta potensi ikan tambak air sungai dan rawa-rawa maupun air payau serta air laut yang berada di kepulauan-kepulauan kecil yang bisa dibuat pertambakan seperti ikan kerapu bintang, kerapu, burung, ikan kakap putih, udang dan kepiting dan lain-lain yang harganya mahal dan berkualitas eksport, namun pada kenyataannya benar-benar belum dimanfaatkan secara maksimal.
Pulau Belitung sendiri mempunyai luas wilayah 4.036 km2, ke utara berhadapan dengan lautan Natuna yaitu laut China Selatan, disebelah Selatan menghadap ke laut Jawa, sedangkan sebelah Timur menghadap ke Selat Karimata, oleh karenanya kepulauan Belitung sangat tepat apabila dikembangkan peternakan sapi dan peternakan domba secara besar-besaran berikut pabrik susunya karena daerahnya yang tenang dan berada strategis ditengah-tengah antara Jakarta, Palembang, Kalimantan Barat, Singapura, Malaysia, Brunai, untuk eksport komodidi termasuk eksport sapi potong, susu instan dan susu full cream yang juga bisa dijual kepada penduduk setempat.
Belajar dari pembangunan sistem pengairan di Martapura Sumatra Selatan yang sumber air bakunya diambil/disodet dari sungai batanghari, dibangun sejak zaman Belanda ratusan tahun yang lalu sampai sekarang tetap produktif menghasilkan beras, pengalaman tersebut sangat baik untuk dijadikan contoh dan diterapkan di propinsi lain (propinsi Babel) sejalan dengan rencana pemerintah untuk sukses ketahanan pangan nasional.
Apabila kepulauan Bangka dan Belitung dibangun areal persawahan masing-masing dengan kapasitas sedang 3000 ha maka 3000 x 2 = 6.000 ha dengan sistem pola inti rakyat (pola PIR) yang dibagi tiap petani 2 ha, maka akan tertampung jumlah pengangguran sebesar 6000 : 2 ha = 3000 orang kepala keluarga (KK) dan apabila setiap KK menghidupi 1 istri + 3 orang anak maka 3000 x 5 = 15.000 jiwa. Begitu pula terhadap hasil panen yang akan dihasilkan, apabila kita hitung tiap HA menghasilkan 7 ton gabah padi basah, maka secara kasar dengan mudah bisa kita hitung 7 x 6000 ha = 42.000. ton, apabila panen dapat dilakukan setahun 3 kali panen maka 42.000. x 3 = 126.000. ton, apabila kita ambil secara kasar setelah padi kering akan susut sebesar 30% maka 126.000. x 30% = 126.000. – 37.800 maka hasil bersih akan diperoleh 88.200. ton/tahun, dengan jumlah hasil produksi tersebut sudah mampu membuat propinsi Babel mandiri atau swasembada beras bahkan sudah surplus besar yang dapat dikirim ke propinsi yang lain.
Tidak hanya beras pada areal irigasi tersebut dapat pula diatur untuk tanaman tebu, jagung dan kedelai sehingga paling tidak 4 macam kebutuhan pokok daerah sudah dapat terpenuhi dan “tidak harus lagi ketergantungan dari pulau Jawa”, berdasarkan survey dan catatan pembangunan irigasi biasanya untuk membangun seluas 4000 ha irigasi persawahan dibutuhkan anggaran dana sebesar 40 milyar (anggaran ini sudah termasuk biaya perencanaan awal oleh ahli konsultan dan pekerjaan kontraktor) dengan masa pembangunan paling lama 18 bulan. Dari segi biaya relatif sebenarnya anggaran tersebut tidaklah terlalu besar dibandingkan dengan manfaat yang akan diperoleh, anggaran biaya tersebut juga bisa dikembalikan kepada pemerintah atau negara yang memberikan loan/hibah secara bertahap yang dikelola secara professional sebagai profit centre, pemerintah sebaiknya memfokuskan diri untuk memfasilitasi pembangunan bidang pertanian serta membangun sarana infra struktur jalan/jembatan untuk menunjang transportasi hasil pembangunan pertanian.
Begitu pula sama hitungannya apabila kita menghendaki swasembada gula pasir (perkebunan tebu), kedelai, kacang hijau dan lain-lain, hitungannya kurang lebih sama tinggal bagaimana “memfungsikan dengan baik dan benar serta memberdayakannya” baik itu Biro Pertanian daerah setempat serta lebih memberdayakan Biro Departemen PU setempat agar berfikir jauh kedepan dan membuat perrencanaan secara besar-besaran untuk tujuan pokok swasembada pangan, menampung pengangguran dan mengatasi kemiskinan serta mengangkat citra pemda yang selama ini dikatakan banyak orang sebagai pemda yang minus dan miskin.
Bagaimana dengan propinsi Babel dan propinsi-propinsi lain yang selama ini ketergantungan kepada droping (beras, gula, jagung,kedelai) dari khususnya pulau Jawa, ada rencana untuk mandiri dan swasembada? Bola ada dikaki pejabat daerah setempat mau maju atu tetap jalan ditempat, semuanya kembali kepada Bapak Gubernur dan Bupati yang terhormat. kontributor MARSIDI ZULKIEFLI (MZ)
Filed Under: Berita Kita





Komentar